Gus Muwafiq Bahas Teknologi Cloud, Tawasul, dan Peran NU di Era Digital dalam Ceramah Menyongsong Satu Abad NU

Gus Muwafiq kembali menjadi perhatian publik setelah membahas hubungan antara perkembangan teknologi digital modern dengan tradisi spiritual Nahdlatul
Warta Batavia - Jakarta – Ceramah KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq kembali menjadi perhatian publik setelah membahas hubungan antara perkembangan teknologi digital modern dengan tradisi spiritual Nahdlatul Ulama (NU). Dalam ceramahnya, Gus Muwafiq menjelaskan pandangannya mengenai konsep “cloud”, “server”, hingga “download spiritual” yang ia kaitkan dengan praktik tawasul, wirid, dan tradisi keagamaan di lingkungan NU.

Ceramah tersebut disampaikan dalam momentum menyongsong satu abad Nahdlatul Ulama di tengah perubahan besar dari dunia analog menuju dunia digital. Gus Muwafiq menyebut era milenial dan perkembangan teknologi saat ini sebagai tantangan sekaligus peluang besar bagi warga NU.

Ceramah KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq


Gus Muwafiq Sebut Era Digital Mirip Tradisi Spiritual NU

Dalam ceramahnya, Gus Muwafiq mengatakan bahwa perkembangan teknologi digital sebenarnya memiliki kemiripan dengan tradisi spiritual yang selama ini dikenal di kalangan Nahdliyin.

Menurutnya, konsep server dan cloud dalam dunia digital dapat dianalogikan dengan keyakinan spiritual tentang hubungan manusia dengan Allah melalui doa, tawasul, dan amalan para ulama.

Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu warga NU telah mengenal konsep penghubung spiritual yang disebut tawasul. Dalam penjelasannya, Gus Muwafiq menggambarkan bahwa praktik tawasul merupakan bentuk “koneksi” spiritual kepada Allah melalui para nabi, wali, dan ulama.

“Teknologi server itu teknologinya NU dari dulu,” ujar Gus Muwafiq dalam ceramah tersebut.

Ia kemudian mengaitkan konsep itu dengan perkembangan teknologi internet modern yang menggunakan server dan cloud untuk menghubungkan manusia tanpa batas wilayah.

Peralihan Dunia Analog ke Dunia Digital

Gus Muwafiq juga menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan masyarakat akibat transformasi digital. Menurutnya, dunia saat ini sedang mengalami pergeseran besar dari sistem analog menuju sistem digital.

Ia menjelaskan bahwa banyak sistem lama mulai ditinggalkan karena perkembangan teknologi internet dan komunikasi digital.

Dalam ceramahnya, ia mencontohkan bagaimana surat menyurat, kantor pos, hingga berbagai mekanisme komunikasi tradisional mulai tergeser oleh aplikasi digital seperti WhatsApp dan media sosial.

“Dulu orang berkirim surat pakai perangko, sekarang cukup lewat WhatsApp,” katanya.

Ia juga menyinggung berakhirnya siaran televisi analog dan berkembangnya platform digital seperti YouTube yang memungkinkan semua orang menjadi penyiar secara mandiri.

Menurut Gus Muwafiq, perubahan tersebut menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju sistem yang berbasis jaringan digital dan cloud.

Tawasul dan Tradisi NU Disebut Selaras dengan Teknologi Modern

Dalam penjelasannya, Gus Muwafiq menghubungkan konsep teknologi modern dengan tradisi spiritual NU seperti tawasul, ziarah kubur, wirid, hizib, hingga pembacaan selawat.

Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi NU, doa diyakini dapat “dikirim” kepada orang lain sebagaimana pesan digital dikirim melalui internet.

Menurutnya, keyakinan mengenai kirim doa, kirim Al-Fatihah, dan tawasul selama ini sering diperdebatkan oleh sebagian kelompok yang dianggap tidak memahami konsep spiritual tersebut.

Gus Muwafiq mengatakan bahwa praktik-praktik tersebut merupakan bagian dari tradisi lama NU yang terus bertahan hingga sekarang.

Ia juga menyebut bahwa para wali dan ulama dahulu menjalani riyadah serta tirakat bertahun-tahun untuk memperoleh pemahaman spiritual yang mendalam.

Gus Muwafiq Bahas Wali dan “Download Spiritual”

Salah satu bagian ceramah yang menjadi perhatian adalah ketika Gus Muwafiq menggunakan istilah “download” untuk menggambarkan proses spiritual para wali dan ulama.

Ia menjelaskan bahwa para ulama terdahulu melakukan tirakat dan ibadah dalam waktu lama untuk mendapatkan ilmu dan makrifat.

Gus Muwafiq mencontohkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang disebut menjalani pendidikan spiritual selama puluhan tahun. Ia juga menyebut Sunan Kalijaga yang berguru kepada Sunan Bonang dalam waktu lama.

Menurutnya, karya-karya ulama klasik yang dipelajari di pesantren merupakan hasil proses spiritual yang panjang.

Ia mencontohkan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, hingga berbagai wirid dan selawat yang dikenal di lingkungan pesantren NU.

Tradisi Ziarah dan Makam Wali Disebut Sebagai “Pemancar Spiritual”

Dalam ceramah tersebut, Gus Muwafiq juga menjelaskan pandangannya tentang ziarah makam wali dan tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi.

Ia menggambarkan makam para wali sebagai tempat yang memiliki “pemancar spiritual” yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai ketuhanan.

Menurutnya, tradisi ziarah kubur yang dijalankan warga NU bukan sekadar tradisi budaya, melainkan bagian dari hubungan spiritual yang telah berlangsung sejak lama.

Ia juga menyinggung berbagai tempat bersejarah dalam Islam seperti Makkah, Madinah, Maqam Ibrahim, hingga Masjidil Aqsa sebagai pusat spiritual umat Islam.

Dalam penjelasannya, Gus Muwafiq menyebut bahwa manusia sejak dahulu selalu mencari tempat-tempat yang dianggap memiliki kedekatan spiritual.

NU Dinilai Punya Sistem Sosial dan Kemanusiaan yang Lengkap

Selain membahas teknologi dan spiritualitas, Gus Muwafiq juga menyoroti sistem sosial yang berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ia mengatakan bahwa NU memiliki tradisi panjang dalam mengurus kehidupan manusia sejak sebelum lahir hingga meninggal dunia.

Menurutnya, berbagai tradisi seperti mitoni, tahlilan, selawatan, khitanan, pengajian, hingga ziarah kubur menjadi bagian dari sistem sosial yang menjaga hubungan antarmasyarakat.

Gus Muwafiq menyebut bahwa tradisi-tradisi tersebut ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Ia mencontohkan kegiatan selawatan, pengajian akbar, dan peringatan hari besar Islam yang melibatkan banyak sektor ekonomi seperti pedagang makanan, penyewaan tenda, sound system, percetakan spanduk, hingga transportasi.

“Roda ekonomi bergerak karena kegiatan masyarakat,” ujarnya.

Gus Muwafiq Soroti Sikap Moderat Kiai NU

Dalam ceramahnya, Gus Muwafiq juga menjelaskan alasan mengapa para kiai NU dikenal memiliki sikap moderat atau tawasuth dalam menyikapi berbagai persoalan sosial dan keagamaan.

Ia menyebut kehidupan manusia modern saling bergantung satu sama lain dalam banyak aspek, mulai dari teknologi, ekonomi, hingga kebutuhan sehari-hari.

Gus Muwafiq mencontohkan berbagai kebutuhan masyarakat seperti pakaian, pengeras suara masjid, kompas kiblat, hingga transportasi yang diproduksi oleh banyak pihak dari berbagai negara.

Karena itu, ia menilai kehidupan modern membutuhkan sikap seimbang dan saling menghormati.

Gus Muwafiq Soroti Sikap Moderat Kiai NU


Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mengkafirkan atau menyalahkan kelompok lain.

NU dan Peran Kebangsaan

Dalam bagian lain ceramahnya, Gus Muwafiq membahas hubungan antara NU dan semangat kebangsaan.

Ia menyebut tradisi ziarah makam ulama dan pahlawan ikut menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Menurutnya, banyak pesantren dan makam wali menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Ia juga menyinggung peristiwa perjuangan 10 November yang menurutnya berkaitan dengan semangat jihad dan perjuangan para ulama.

Selain itu, Gus Muwafiq mengatakan bahwa konsep musyawarah, kebersamaan, dan kehidupan sosial yang berkembang di Indonesia memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan para ulama.

Ceramah Gus Muwafiq Ramai Dibahas di Media Sosial

Ceramah Gus Muwafiq mengenai teknologi cloud dan tradisi spiritual NU ramai diperbincangkan di media sosial. Potongan video ceramah tersebut beredar luas di berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, Facebook, dan Instagram.

Sebagian warganet menilai gaya penyampaian Gus Muwafiq yang menggunakan analogi teknologi digital membuat materi ceramah lebih mudah dipahami generasi muda.

Istilah-istilah seperti “cloud Allah”, “download spiritual”, “server”, hingga “WiFi wali” menjadi bagian yang paling banyak dibicarakan publik.

Di sisi lain, ceramah tersebut juga memunculkan berbagai tanggapan dan diskusi dari masyarakat terkait pandangan keagamaan, tradisi NU, dan perkembangan teknologi modern.

NU Sudah Lewat Satu Abad

Satu abad Nahdlatul Ulama sudah, Gus Muwafiq menilai organisasi tersebut menghadapi tantangan besar di era digital.

Namun ia menyebut NU memiliki modal budaya, tradisi, dan sistem sosial yang kuat untuk bertahan di tengah perubahan zaman.

Ia mengatakan perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat masyarakat meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan spiritualitas.

Menurut Gus Muwafiq, masa depan dunia tetap bergantung pada manusia dan hubungan sosial yang sehat.

Ceramah tersebut menutup dengan penekanan bahwa NU selama ini berupaya menjaga keseimbangan antara agama, tradisi, teknologi, dan kehidupan sosial masyarakat. (Qodrat Arispati)

Simak video ceramah Gus Muwafiq terbaru di YouTube: 


LihatTutupKomentar